FEBUPNVJ – Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (FEB UPNVJ) menyelenggarakan Grand Investment Outlook 2026 dengan tema “From Governance to Geopolitics: The Forces Reshaping Indonesia’s Investment Outlook” pada hari Sabtu (24/10). Kegiatan yang berlangsung secara luring di Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta daring melalui Zoom Meeting ini diikuti 427 mahasiswa dan pelajar dari berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami dinamika pasar modal, risiko investasi, serta prospek perekonomian Indonesia menuju 2027.

Grand Investment Outlook 2026 menghadirkan tiga praktisi pasar dan investasi, yakni Johan Candra, S.T., MBA., CFA., FRM., CESGI., ACC., PFM., CWM., CFP., selaku Founder & CEO PT Starfin Nawasena Indonesia; Ramlan Pangaribuan, CFA., FRM., CSA., CTA., CWM., selaku Investment Professional & Senior Corporate Report Associate PT TASPEN (Persero); serta Herditya Wicaksana, CEWA-M., selaku Head of Research Retail MNC Sekuritas. Diskusi dipandu Ferdy Tirtakusuma, CWM., CFP.

Kegiatan dibuka oleh Ilham Akbar Denovansyah dan Sharon Eunice Benyamin sebagai Master of Ceremony, dilanjutkan dengan penyampaian tata tertib, pembacaan doa, laporan kegiatan oleh Project Officer Grand Investment Outlook 2026 Annisa Putri, serta sambutan Wakil Ketua KSPM FEB UPNVJ Najwa Subekti.

Rangkaian acara kemudian diawali dengan penayangan keynote speech dari Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A. Dalam pesannya, Sandiaga menekankan pentingnya memahami fundamental ekonomi, proses hilirisasi, dan potensi sektor industri sebelum mengambil keputusan investasi. Menurutnya, investor tidak cukup hanya mencari saham yang berpotensi naik, tetapi perlu memahami faktor fundamental yang mendasari pergerakan pasar. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda untuk mengambil keputusan investasi secara kritis, rasional, dan bijak di tengah perubahan ekonomi.

Memasuki sesi talkshow, pembahasan diarahkan pada faktor global dan domestik yang membentuk prospek investasi Indonesia. Johan Candra menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik dan isu lingkungan menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia sepanjang 2026. Pergerakan saham berkapitalisasi besar juga tidak terlepas dari dinamika aliran dana investor asing (foreign flow).

Menurut Johan, terdapat sejumlah faktor global yang perlu diperhatikan menuju 2027, antara lain kebijakan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik yang dapat memengaruhi biaya energi dan logistik, serta perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membuka peluang bisnis baru. Ia juga melihat sektor perbankan tetap memiliki prospek relatif stabil, sedangkan green business, wealth business, dan health business berpotensi berkembang. Di sisi lain, pemahaman terhadap fundamental dan peningkatan kapasitas diri diperlukan agar investor tidak sekadar mengikuti tren atau mengambil keputusan karena Fear of Missing Out (FOMO).

Ramlan Pangaribuan menyoroti peluang yang tetap terbuka di tengah tekanan dan ketidakpastian pasar. Ia menilai sektor energi memiliki prospek menarik menuju 2027 karena dinamika geopolitik turut memengaruhi pasokan dan kebutuhan energi global. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan investor dalam mengelola risiko.

Ia juga menekankan pentingnya pemahaman behavioral finance dalam pengambilan keputusan investasi. Bias emosional seperti FOMO, panic selling, dan keputusan transaksi secara impulsif dapat memengaruhi kualitas keputusan investor. Karena itu, investasi membutuhkan disiplin, pengendalian emosi, serta keputusan yang didasarkan pada data dan analisis.

Sementara itu, Herditya Wicaksana membahas pengaruh risiko global dan domestik terhadap kepercayaan investor di pasar modal Indonesia. Ia memaparkan adanya foreign outflow sebesar Rp88,19 triliun sebagai salah satu indikator sikap hati-hati investor terhadap kondisi pasar. Faktor global seperti ketegangan geopolitik, inflasi, dan kebijakan suku bunga The Fed turut menjadi perhatian.

Dari sisi domestik, Herditya menekankan pentingnya tata kelola, transparansi, dan keterbukaan informasi dalam menjaga kepercayaan investor. Ia juga melihat sektor energi, komoditas, perkebunan, dan bahan baku (basic materials), termasuk nikel, memiliki prospek yang menarik. Menurutnya, sinergi antara regulator, Self-Regulatory Organization (SRO), dan emiten diperlukan untuk membangun pasar modal yang semakin transparan dan terpercaya.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang dirancang untuk mengasah kemampuan analisis dan pengambilan keputusan peserta. Dalam kelompok beranggotakan delapan orang, peserta berperan sebagai Komite Investasi yang menganalisis sejumlah tantangan investasi Indonesia dan menentukan keputusan Buy, Hold, atau Sell terhadap sektor strategis, yaitu Energy, Gold, Banking, dan Consumer.

Melalui Investment Committee Worksheet – GIO 2026, peserta tidak hanya diminta menentukan keputusan investasi, tetapi juga mengidentifikasi penyebab, dampak, solusi, serta peran berbagai pihak dalam menghadapi persoalan yang dibahas. Format tersebut memberikan pengalaman praktis bagi peserta untuk menghubungkan teori, data, risiko, dan dinamika pasar dalam proses pengambilan keputusan investasi.

Secara keseluruhan, Grand Investment Outlook 2026 memperkuat komitmen FEB UPNVJ dalam mendorong literasi dan pemahaman investasi di kalangan generasi muda. Kegiatan ini sekaligus memberikan perspektif bahwa kemampuan berinvestasi tidak hanya berkaitan dengan mengejar return, tetapi juga memahami fundamental, risiko, tata kelola, dan perubahan lingkungan strategis yang memengaruhi pasar.

Melalui kegiatan edukatif dan kolaboratif semacam ini, FEB UPNVJ terus mendorong mahasiswa untuk memiliki kapasitas analitis, berpikir kritis, serta mampu merespons dinamika ekonomi secara bertanggung jawab. Penguatan literasi tersebut menjadi bagian dari upaya FEB UPNVJ dalam menyiapkan generasi muda yang kompeten dan mampu berkontribusi terhadap perkembangan pasar modal Indonesia yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

Share :