
FEBUPNVJ – Kemampuan perusahaan dalam menyeimbangkan efisiensi operasional dengan inovasi menjadi faktor penting untuk mempertahankan keberlanjutan bisnis di tengah disrupsi teknologi dan perubahan lingkungan usaha. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Prasetyo Hadi, S.E., M.M., CFMP., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (FEB UPNVJ), saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional dan Call for Papers Business, Economics, Management, and Accounting (BIEMA) 9th yang berlangsung pada Rabu (29/7/2026) di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika UPNVJ.
Dalam paparannya bertajuk “Perspektif Ambidexterity & Dynamic Capabilities dalam Bisnis Berkelanjutan: Menyelaraskan Terobosan Teknologi dengan Praktik Bisnis Berkelanjutan”, Prof. Prasetyo menjelaskan bahwa banyak perusahaan menghadapi tantangan mempertahankan keberlangsungan usaha akibat perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis. Disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi, perubahan regulasi, hingga transformasi kebutuhan pasar menuntut organisasi untuk tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan bisnis dalam jangka panjang.
Menurutnya, keberlanjutan perusahaan harus dibangun melalui keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan sehingga organisasi mampu menciptakan nilai jangka panjang tanpa mengorbankan kepentingan para pemangku kepentingan. Fokus tersebut menjadi semakin penting di tengah tantangan tahun 2026 yang ditandai dengan meningkatnya disrupsi teknologi, tuntutan penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG), serta perubahan kebutuhan sumber daya manusia.
Prof. Prasetyo menjelaskan bahwa organisasi memerlukan dynamic capabilities, yaitu kemampuan untuk mendeteksi peluang (sensing), menangkap peluang melalui eksekusi strategi (seizing), dan menata ulang sumber daya organisasi (reconfiguring) agar mampu beradaptasi secara berkelanjutan terhadap perubahan lingkungan bisnis. Ketiga kemampuan tersebut menjadi fondasi organisasi dalam merespons dinamika pasar secara cepat dan fleksibel.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya konsep organizational ambidexterity, yakni kemampuan perusahaan untuk menyeimbangkan eksploitasi dan eksplorasi. Eksploitasi berfokus pada peningkatan efisiensi, produktivitas, dan optimalisasi model bisnis yang telah berjalan, sedangkan eksplorasi diarahkan pada pencarian inovasi, pengembangan teknologi baru, serta pembukaan peluang pasar masa depan. Menurutnya, perusahaan yang mampu mengelola kedua pendekatan tersebut secara bersamaan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Dalam paparannya, Prof. Prasetyo juga mempresentasikan hasil penelitian terhadap 250 pemilik start-up, manajer, dan karyawan profesional di Daerah Istimewa Yogyakarta menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis perangkat lunak AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan seizing dan reconfiguring memberikan pengaruh signifikan terhadap keberlanjutan perusahaan, sedangkan kemampuan sensing saja belum mampu memberikan dampak apabila tidak diikuti dengan tindakan nyata dan transformasi organisasi.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan perlu mengimplementasikan dua langkah strategis. Pertama, seizing, yaitu mengalokasikan sumber daya secara tepat melalui investasi teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus membangun fondasi inovasi masa depan, termasuk standardisasi data dan kolaborasi dalam ekosistem digital. Kedua, reconfiguring, yaitu melakukan transformasi organisasi melalui pembentukan budaya kerja yang lincah (agile), integrasi sistem digital, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia agar siap menghadapi perubahan teknologi.
Prof. Prasetyo menegaskan bahwa ambidexterity berperan sebagai jembatan yang menghubungkan dynamic capabilities dengan keberlanjutan perusahaan. Kemampuan menyeimbangkan eksploitasi dan eksplorasi memungkinkan organisasi tetap inovatif tanpa mengabaikan efisiensi operasional, sehingga transformasi yang dilakukan dapat menghasilkan ketahanan bisnis dalam jangka panjang.
Melalui pemaparan tersebut, peserta BIEMA 9th memperoleh perspektif mengenai pentingnya membangun organisasi yang adaptif terhadap perubahan teknologi sekaligus mampu menjaga keberlanjutan bisnis. Kehadiran Prof. Prasetyo Hadi sebagai Guru Besar FEB UPNVJ memperkuat komitmen fakultas dalam menghadirkan hasil penelitian yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha serta mendorong lahirnya strategi bisnis yang mampu menjawab tantangan ekonomi digital dan pembangunan berkelanjutan.
