FEBUPNVJ — Prestasi mahasiswa tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan atau panjangnya daftar pengalaman dalam curriculum vitae (CV), tetapi dari dampak yang dihasilkan bagi diri sendiri dan lingkungan. Pandangan tersebut disampaikan Jodhy Farel Budiman, Wakil Ketua BEM UPN “Veteran” Jakarta, dalam sesi inspiratif PKKMB FEB UPNVJ 2026 di Balai Komando Cijantung, Jakarta Timur pada Kamis (13/8/2026).

Dalam dialog yang dimoderatori Kevin, Jodhy menceritakan pengalamannya membangun prestasi melalui organisasi dan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Menurutnya, sejak menjadi mahasiswa baru, mahasiswa perlu memiliki pemahaman bahwa prestasi tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik maupun nonakademik.

“Output utama dari prestasi itu adalah impact dan dampaknya, baik untuk diri sendiri maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.

Bagi Jodhy, pola pikir tersebut penting agar mahasiswa berani melampaui batas kemampuan yang selama ini mereka bayangkan. Kegiatan organisasi, misalnya, dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan kepemimpinan sekaligus menghasilkan kontribusi yang dapat dirasakan orang lain.

Pengalaman memimpin organisasi juga membuat Jodhy memahami pentingnya memilih anggota berdasarkan potensi kontribusi. Ia menilai seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan CV atau seberapa aktif dirinya terlihat.

Menurutnya, proses memilih anggota tim perlu dimulai dengan membayangkan output yang ingin dihasilkan, peran yang akan dijalankan, hingga bagaimana hasil tersebut dapat disampaikan. Cara tersebut menjadi dasar untuk membangun sinergi dan kolaborasi yang lebih efektif.

Jodhy juga menekankan pentingnya kemampuan mengelola waktu. Bagi mahasiswa baru yang ingin aktif berorganisasi sekaligus mengejar prestasi, pengaturan waktu menjadi langkah awal yang harus dibangun sejak dini.

Dalam perjalanan organisasi, ia mengakui pernah mengalami titik jenuh, tekanan, hingga kegagalan. Namun, Jodhy memilih mengubah cara pandang terhadap kegagalan. Menurutnya, ambisi tetap diperlukan, tetapi tidak seharusnya hanya diarahkan pada hasil berupa materi atau benda.

“Apapun hasilnya, setidaknya harus memberikan manfaat untuk diri sendiri dan menjadi bahan evaluasi,” katanya.

Ia mencontohkan pengalaman ketika pernah mengalami kegagalan dalam sebuah proses pencalonan. Meski hasilnya tidak sesuai harapan, pengalaman tersebut justru membuka kesempatan untuk menghasilkan dampak yang lebih luas hingga ke berbagai daerah, termasuk Kalimantan dan Papua.

Bagi Jodhy, landasan utama dalam berprestasi adalah memastikan setiap aktivitas memiliki nilai positif dan dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak orang. Prinsip tersebut juga membentuk kemampuan negosiasi dan manajemen tekanan karena banyaknya aktivitas yang dijalani.

Jodhy turut mengingatkan mahasiswa agar tidak terburu-buru menilai seseorang hanya berdasarkan kesan pertama. Dalam membangun tim, mahasiswa perlu memberikan ruang dan kesempatan kedua karena seseorang bisa saja belum mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan potensinya.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang posisi, tetapi tentang kemampuan melihat potensi, membangun kolaborasi, dan menghasilkan perubahan. Bagi mahasiswa baru FEB UPNVJ, pengalaman organisasi dapat menjadi ruang untuk membentuk karakter sekaligus menciptakan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Share :