Dalam Business Seminar Series #3 dengan tema “Form Corporate Social Responsibility to Creating Shared Value”, pada Jumat 17 Juli 2020. Abdul Manan,ST.MM, menjelaskan mengenai konsep CSV dan CSR. Dimana dalam kedua konsep tersebut memiliki perbedaan yang cukup jelas. Dimana tujuan dalam CSV adalah menjadikan tanggungjawab sosial bukan sebagai beban tapi sebagai sebuah investasi jangka panjang yang menguntungkan bagi perusahaan dan masyarakat. Sedangkan CSR terpisah dari pencapaian keuntungan dan bertujuan untuk berbuat baik. Definisi tanggung jawab sosial menurut ISO 26000, ialah dampak keputusan dan aktivitas terhadap masyarakat dan lingkungan hidup dengan cara transparan, beretika, berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan.

Salah satunya dilakukan SIG dengan program Pemberdayaan BUMDes, salah satu contohnya pada pembentukan BUMDes di Desa Tegaldowo, Gunem, Rembang, Jawa Tengah. Desa tersebut memiliki potensi seperti: Pengelolaan Pasar, Wisata embung, dan Café Mumpuni. Yang paling menarik adalah Edupark (Education Park) Pabrik Rembang, yag dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang memiliki 1,65 hektar dan difasilitasi dengan kandang ternak domba, sapi, ayam, burung puyuh, Biogas, Green House, serta kolam ternak lele. Namun dimasa pandemi saat ini perusahaan harus dapat beradaptasi dengan adanya Covid-19, ujar Abdul Manan.

Dr. Gancar C Premanto mengungkapkan persetujuannya dengan pernyataan Abdul Manan, bahwa ditengah pandemic Covid-19 adaptasi sangat diperlukan dengan strategi “low budget hight impact”. Hal ini melibatkan strategi CSR dan juga CSV secara kreatif dengan memanfaatkan Helicopter View, yaitu Thinking Big, Thinking Deep, dan Thinking In Tme. Gancar juga memaparkan mengenai konsep “Strategi Needs Creativity (Sumber: Harvard Business Review), dimana dalam memanfaatkan sebuah strategi yang kreatif, kita membutuhkan 4 poin, yaitu kontras, kombinasi, kendala, dan konteks.

Kontras yang dimaksud disini adalah harus dapat berpikir beda. Hal tersebut dapat dilakukan dengan diskusi terbuka. Kombinasi sendiri maksudnya dengan menggabungkan atau mengkaitkan suatu hal dengan hal lain sehingga saling berhubungan. Poit ketiga adalah kendala, yaitu melihat keterbatasan sebagai kekuatan dengan melihat peluang yang ada dari sebuah masalah yang dihadapi. Yang terakhir adalah konteks, yaitu merenungkan sebuah masalah yang sama dengan cara yang berbeda, hal tersebut jika dilakukan dapat membuat kita lebih mengenali masalah dan mengetahui resiko yang lebih kecil dari suatu keputusan yang diambil.

Namun sebuah perusahaan akan lebih baik jika bukan hanya mengarah pada CSR namun juga menggabungkan CSV. Dimana bukan hanya membangun sebuah reputasi serta image dengan kontribusi yang dilakukan melalui Program Corporate Social Responbility yang berdampak bagi masyarakat saja. Namun juga berdampak bagi kesejahteraan internal perusahaan itu sendiri (Migusti Astuti).