Mengerikan

Oleh:
 Syarif Ali
Dosen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta

 

Tsunami informasi dalam dalam tiga bulan belakangan ini merebak begitu cepat. Hingar bingar persiapan kontestasi 171 Pilkada 2018 sudah mengundang kecemasan beberapa pihak terutama merebaknya politik identitas. Tidak berhenti sampai disitu saja, berita Pilkada 2018 sudah diwarnai dengan tersandungnya langkah calon Kepala Daerah sebelum bertanding. Bupati mencalonkan diri menjadi Gubernur NTB terlanjur dicokok KPK.

Gaung penghelatan Asian Games 2018 tak kalah ramainya, di tengah uji coba kejuaraan Asian Games yang minim medali emas, kontingen Indonesia terancam hanya menjadi tuan rumah sekaligus penggembira tok. Nah, dalam kondisi seperti ini akan banyak “kambing hitam” yang dicari apakah oleh pelatih maupun pembina olah raga yang pintar ngeles dan tidak mau disalahkan. Kalau kita punya peliharaan kambing hitam, mending kita kandangkan jauh – jauh atau cepat dijual ke warung sate.

Berhati – hatilah generasi milenial, anda kemungkinan menjadi tuna wisma dalam beberapa tahun mendatang. Berita generasi milenial sulit beli rumah bukan isapan jempol karena harga properti tidak berbanding lurus dengan penghasilan. Tahun 2016 dengan gaji Rp. 6 juta harga rumah sudah mencapai Rp. 300 juta, tahun 2021 dengan gaji 12 juta harga rumah di wilayah kota satelit penyangga Jakarta akan mencapai Rp. 750 juta. Akan lebih bijak untuk mengurangi ongkos travelling, gadget dan hangout,  tidak menunda membeli rumah akan sangat bijak. Menurut Rumah123.com, menunda satu tahun untuk membeli properti membuat kehilangan daya beli 4- 8 persen.

Kenal apa itu bitcoin? Ya, dia jenis uang virtual/digital (cryptocurrency) hasil karya orang atau kelompok Satoshi Nakamoto, dikatakan orang atau kelompok karena pembuatnya memang memisteriuskan diri, tidak mau dikenal. Tapi jangan mau bergaul dengan bitcoin, berbahaya. Mengapa? Karena bitcoin tidak memiliki induk atau otoritas seperti bank sentral, karena itu Bank Indonesia melarang penggunaanya. Sama dengan Indonesia, China sudah terlebih dahulu mengharamkan bitcoin. Untuk diketahui, uang ini biasanya digunakan untuk transaksi narkoba, pencucian uang, dan dana terorisme.

Dan terakhir, segeralah bergabung dengan Sentra Bina UKM (SBU) FEB UPN “Veteran” Jakarta yang akan mendampingi anda menjadi wirausaha. SBU akan mewujudkan mimpi anda untuk berkerasi menciptakan lapangan pekerjaan. Bukan untuk menakut-nakuti, tiga hari terakhir ini ramai muncul istilah industri 4.0 ! binatang apa pula itu? Era 4.0 bercirikan kompleksnya semua jenis pekerjaan, disebabkan kombinasi globalisasi dengan teknologi informasi yang kecepatan sangat di luar akal sehat. Klaus Schwab dalam The fourth Industrial Revolution menggambarkan akan banyak pekerjaan yang lenyap tergerus dalam era 4.0 (revolusi industri keempat). Mantan menteri perdagangan, Mari Elka Pangestu mengatakan akan terjadi perubahan pekerjaan. “ pekerjaan di Asia Tenggara akan hilang berkisar 40-60 persen, ini memang mengerikan, tapi kita tidak perlu takut,” ujarnya. Menurut Pangestu, kita perlu memikirkan bagaimana mengantisipasinya, kendala utama adalah kurangnya kesadaran.

Untuk amannya, mari kita beropini bahwa kunci untuk beradapatasi dengan industri 4.0 yakni melalui produktivitas dan inovasi. Menjadi wirausaha akan produktif jika inovasi terasah tajam dan SBU akan membantu menajamkan taji inovasi anda, seperti moto SBU “empowered by innovation”. (syarif)

 

 

 

Accounting Practice on Social Environment and Spiritual Aspect in PostModern Era

Oleh:
 Ni Putu Eka Widiastuti
Dosen Tetap Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta

 

 

Dasarkanlah setiap tindakan mu semangat pengabdian, itu lah ciri dharma yang asli.

Pengabdian kepada Tuhan atas kemurnian pikiran, perkataan dan perbuatan sehingga kasih, keseimbangan batin, kejujuran dan tanpa kekerasan keutamaan itu yang menyertai hamba Tuhan

(Sai Baba, 2005:27)

Berdasarkan pernyataan di atas kita dapat menarik suatu nilai–nilai budaya dalam melakukan tindakan ketika berinteraksi dengan orang lain di sekitar lingkungan sebagai wujud pengabdian diri kepada Tuhan. Tindakan yang dapat terwujud dapat berbentuk apa pun, salah satunya melakukan praktik akuntansi atau memaknai praktik akuntansi itu sendiri dalam keragaman nilai-nilai budaya di masyarakat. Tulisan ini akan memberikan suatu wacana bagaimana memaknai simbol budaya praktik akuntansi dalam Era Postmodern.

Sebagai gerakan sosial pemikiran, postmodernisme “berhasil’ dalam menawarkan opini, melontarkan apresiasi dan menikamkan kritik yang tajam terhadap wacana modernitas dan kapitalisme global yang mutakhir. Postmodernisme merupakan suatu sinyal hadirnya sejumlah pemikir, filsuf dan intelektual yang berusaha melakukan “dekonstruksi” atas basis dasar pengetahuan modern. Situasi global mutakhir yang menimpa masyarakat modern, dari dehumanisasi, peperangan, kolonialisasi, pembantaian, pencemaran lingkungan dan sebagainya. Masyarakat Postmodern dihadapkan dengan banyak tawaran (alternatif) dan kebenaran pengetahuan yang diakuinya sebagai pilihan konsekuensi logis adalah kebenaran. Pengetahuan tidak lagi bersifat homology (kesatuan) melainkan paralogy (keragaman) (Santoso,2007: 321). Keadaan yang demikian mengakui adanya pluralitas dalam masyarakat, sehingga muncul pemahaman atas relativitas kebenaran, dimana kebenaran tidak hanya dari satu sumber namun kebenaran dapat muncul dari berbagai macam sumber.

Budaya berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia dengan bergulirnya waktu atau masa, sehingga era modern berganti dengan post modern yang ditandai munculnya beberapa disiplin ilmu, seperti antropologi, terdapat nama S.A Tyler, M.J Fischer dan kelompok Ice Circle dengan experimental ethnography. Dalam disiplin sosiologi terdapat nama Norman Denzin dengan kajian film dan Pierre Bordieu dengan theatrum politicum.   Wilayah filsafat terdapat nama Jean Francois Lyotard dengan konsep paralogi, disensus dan delegitimasi, Jacques Derrida dengan dekonstruksi, Michael Foucault dengan kajian tentang arkeologi pengetahuan, genealogi sejarah seksualitas dan teknologi kekuasaan. Jean
Baudrillard dengan kajian budaya tentang dunia simulasi, hiperrealitas, simulacra dan dominasi nilai-tanda dan nilai-simbol dalam realitas kebudayaan dewasa ini (Featherstone, 1988: 196).

Asumsi-asumsi modernisme yang kini telah menjelma menjadi mitos baru, persepsi masyarakat akan  sesuatu hal yang di luar batas nalar, pencarian sosok yang tidak realistis sehingga menjadi hiperrealistis, mengagumi yang semu tanpa menyadari bahwa itu hanya imajinasi menghasilkan peradaban simulasi dan berharap bahkan sampai dengan berambisi menginginkan yang dimiliki orang untuk kita jadikan milik kita. Dampaknya, ketika kita bercermin menggunakan topeng milik orang lain dipasangkan dengan ambisi wajah kita serupa dengan topeng tersebut… simulacra.

Jean Baudrillard seorang filsuf Perancis mencoba membaca realitas kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini dalam ranah kritis. Baudrillard menyatakan bahwa realitas kebudayaan dewasa ini menunjukkan adanya karakter khas yang membedakannya dengan realitas kebudayaan modern Masyarakat Barat. Inilah kebudayaan postmodern yang memiliki ciri-ciri hiperrealitas, simulacra dan simulasi. Dominasi nilai-tanda dan nilai-simbol dan konsumerisme pada praktik akuntansi hanya mengungguli bentuk dari pada substansi sebagai media komunikasi antara pemilik, manajemen dan pihak yang berkepentingan. Inilah wacana kebudayaan yang saat ini menghidupi dan sekaligus kita hidupi, sebagai sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditolak. Wacana kebudayaan inilah yang menawarkan tantangan sekaligus peluang bagi kita untuk mulai memperhatikan sisi lain realitas  masyarakat dewasa ini.

Kita bukan menghindari kondisi dominasi nilai -tanda dan nilai-simbol, namun hanya sebagai cerminan, sehingga dapatnya kita telaah mana yang sesuai dengan peradaban kehidupan  dengan nilai-nilai Budaya Timur, sebagaimana tempat hidup kita sekarang ini.

Bagaimana masyarakat timur memaknai pergeseran pemahaman dari modernitas kepada posmodern yaitu obyek-obyek yang pada masa lalu dikaitkan dengan upacara-upacara, ritualmagis dan mitos serta pada masyarakat industri dikaitkan dengan upaya-upaya “kemajuan” transformasi. Kini, masyarakat konsumerisme terindikasi sebagai cerminan masyarakat postmodern, obyek-obyek baru justru didefinisikan kembali dengan kode-kode baru dengan bahasa estetik yang baru dengan makna-makna yang baru pula. Bagi penganut agama, proses ritual dalam menjalankan ibadah keagamaan mampu mempengaruhi budaya melakukan tindakan sosial untuk menghindari kondisi dominasi simulacra.

Jacobs and Stepher (NN) menyatakan tentang penerapan praktik akuntansi dan akuntabilitas di sebuah gereja pada masyarakat  IONA.

“The accounting literature on non-profit organisations contains a number of contributions on accounting and accountability in churches and other religious groups but these are surprisingly few given the social and economic significance of many of these organisations.”

Kondisi perkumpulan masyarakat penganut agama dalam menjalankan ritual keagamaannya pada masyarakat budaya timur sangat berdampak terhadap kondisi dan tindakan sosial dan ekonomi negara tersebut. Demikian halnya dengan kegiatan ritual agama yang ada di Indonesia, menurut beberapa peneliti memengaruhi tindakan sosial penganutnya. Seperti yang disampaikan oleh Dharmayusa di bawah ini:

Budaya masyarakat timur yang sebagian besar agraris terbiasa dengan bahasa yang diam. Mereka mengalami betapa alam menunjukkan diri dalam diam tetapi mengesankan. Dalam kesederhanaan hidup mereka terlatih dengan perasaan dari pada pikiran. Oleh karena itu, Timur lebih menyukai intuisi dari pada akal. Untuk mereka yang dari timur pusat kepribadian seseorang bukanlah inteleknya tetapi hatinya, yang mempersatukan akal dan intuisi, intelegensi dan perasaan. Hati mempunyai pertimbangan sendiri yang tidak dapat diketahui oleh akal (Dharmayudha, 1989:80).

Masyarakat timur berusaha mengungkapkan ide-ide universal dan abstrak secara simbolik dan konkrit. Simbolik maksudnya ungkapan simbol-simbol, serta tanda-tanda yang mempunyai makna. Sedangkan konkrit berarti berusaha mengungkapkan suatu ide melalui hal-hal yang dapat diamati oleh indra manusia. Masyarakat timur “belajar” adalah untuk mencapai kebijaksanaan. Pengetahuan intelektual saja tidak mampu membuat seseorang menghayati hidup lebih baik dan dianggap sebagai pemborosan waktu belaka, sehingga intuisi, pemikiran yang konkrit, simbolik dan bersikap bijaksana merupakan keistimewaan orang timur mendekati realitas. Sebagai manusia perlu alat atau media untuk kembali kepada sang pencipta sehingga agama merupakan kendaraan, terlepas dari agama apa pun yang dianut manusia individu terebut pada akhirnya adalah mempunyai tujuan sama yaitu mencapai kepada sang penciptaan atau sang kebenaran melalui tindakan sosial praktik akuntansi.

 

 

PERAN CIVITAS AKADEMIKA DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI DI ERA GLOBALISASI

Oleh:
Dr. Jubaedah, S.E., M.M.
Kepala Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta

 

Tujuan negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang -undang Dasar 1945 adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh  tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dalam kaitannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Daoed Joesoef mengatakan, ketahanan dan kekuatan suatu bangsa terletak pada bidang pendidikan. Oleh karena itu Pembangunan dalam segenap aspek kehidupan dalam rangka mencapai tujuan bernegara tersebut sejatinya adalah sama dengan menciptakan masyarakat madani yang berpendidikan.

Keberhasilan suatu negara untuk menciptakan masyarakat yang madani dapat dilihat dari sumber daya manusia yang dimiliki. Sedangkan untuk membentuk sumber daya manusia yang handal dalam berbagai bidang memerlukan sistem pendidikan yang berkualitas sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan semakin berkualitasnya dunia pendidikan diharapkan pembangunan di segala bidang dapat diwujudkan, membangun kehidupan bangsa yang adil, makmur, sejahtera lahir dan batin sesuai dengan amanah Pembukaan UUD 1945.

Kualitas pendidikan yang menitikberatkan pada tercapainya tujuan pendidikan di perguruan tinggi sangat ditentukan oleh terciptanya hubungan civitas akademika yang harmonis antara dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa. Dalam hal ini, tenaga kependidikan dan dosen  merupakan salah satu faktor penting yang memegang kendali proses berlangsungnya sistem pendidikan perguruan tinggi. Untuk mencapai tujuan Pendidikan diperlukan sistem yang kredibel dan transparan untuk menciptakan suatu hubungan yang harmonis antar civitas akademika.

Dalam kenyataannya di dunia pendidikan saat ini,  khususnya perguruan tinggi  masih terdapat kendala dan tantangan, sehingga tujuan dan harapan Kemenristekdikti RI untuk membentuk hasil didik / lulusan yang berdaya saing sesuai dengan visi dan misi FEB UPN Veteran Jakarta masih belum tercapai sepenuhnya. Diperlukan sinkronisasi kebijakan dan sistem pengajaran antar civitas akademika dibidang kelembagaan, sumber daya, penguatan riset dan pengembangan, serta penguatan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keterlibatan tenaga kependidikan dan dosen  dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan proses pembelajaran dalam perguruan tinggi sangat ditentukan antara lain oleh pemahaman terhadap visi misi perguruan tinggi. Tidak dapat dipungkiri pengembangan perguruan tinggi dan proses pelaksanaan kegiatannya yang meliputi tiga unsur pokok yaitu: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat dan segala bentuk proses pelaksanaan dan dukungan ketersediaan berbagai sarana dan fasilitas penunjang kegiatan hanya akan berjalan lancar sesuai harapan dan keinginan, jika diwujudkan melalui hubungan yang baik antar semua elemen/komponen yang ada di perguruan tinggi. Hubungan yang harmonis antar civitas akademika dapat  memberikan efek yang baik terhadap seluruh komponen perguruan tinggi sesuai dengan visi dan misi perguruan tinggi. Dengan tercapainya visi dan misi perguruan tinggi akan menciptakan lulusan yang profesional sehingga akan berdampak pada terpenuhinya sumber daya manusia yang handal dalam berbagai bidang. Hal ini sesuai dengan program nawa cita pemerintah yaitu menciptakan masyarakat madani dan berwawasan global