Accounting Practice on Social Environment and Spiritual Aspect in PostModern Era

Oleh:
 Ni Putu Eka Widiastuti
Dosen Tetap Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta

 

 

Dasarkanlah setiap tindakan mu semangat pengabdian, itu lah ciri dharma yang asli.

Pengabdian kepada Tuhan atas kemurnian pikiran, perkataan dan perbuatan sehingga kasih, keseimbangan batin, kejujuran dan tanpa kekerasan keutamaan itu yang menyertai hamba Tuhan

(Sai Baba, 2005:27)

Berdasarkan pernyataan di atas kita dapat menarik suatu nilai–nilai budaya dalam melakukan tindakan ketika berinteraksi dengan orang lain di sekitar lingkungan sebagai wujud pengabdian diri kepada Tuhan. Tindakan yang dapat terwujud dapat berbentuk apa pun, salah satunya melakukan praktik akuntansi atau memaknai praktik akuntansi itu sendiri dalam keragaman nilai-nilai budaya di masyarakat. Tulisan ini akan memberikan suatu wacana bagaimana memaknai simbol budaya praktik akuntansi dalam Era Postmodern.

Sebagai gerakan sosial pemikiran, postmodernisme “berhasil’ dalam menawarkan opini, melontarkan apresiasi dan menikamkan kritik yang tajam terhadap wacana modernitas dan kapitalisme global yang mutakhir. Postmodernisme merupakan suatu sinyal hadirnya sejumlah pemikir, filsuf dan intelektual yang berusaha melakukan “dekonstruksi” atas basis dasar pengetahuan modern. Situasi global mutakhir yang menimpa masyarakat modern, dari dehumanisasi, peperangan, kolonialisasi, pembantaian, pencemaran lingkungan dan sebagainya. Masyarakat Postmodern dihadapkan dengan banyak tawaran (alternatif) dan kebenaran pengetahuan yang diakuinya sebagai pilihan konsekuensi logis adalah kebenaran. Pengetahuan tidak lagi bersifat homology (kesatuan) melainkan paralogy (keragaman) (Santoso,2007: 321). Keadaan yang demikian mengakui adanya pluralitas dalam masyarakat, sehingga muncul pemahaman atas relativitas kebenaran, dimana kebenaran tidak hanya dari satu sumber namun kebenaran dapat muncul dari berbagai macam sumber.

Budaya berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia dengan bergulirnya waktu atau masa, sehingga era modern berganti dengan post modern yang ditandai munculnya beberapa disiplin ilmu, seperti antropologi, terdapat nama S.A Tyler, M.J Fischer dan kelompok Ice Circle dengan experimental ethnography. Dalam disiplin sosiologi terdapat nama Norman Denzin dengan kajian film dan Pierre Bordieu dengan theatrum politicum.   Wilayah filsafat terdapat nama Jean Francois Lyotard dengan konsep paralogi, disensus dan delegitimasi, Jacques Derrida dengan dekonstruksi, Michael Foucault dengan kajian tentang arkeologi pengetahuan, genealogi sejarah seksualitas dan teknologi kekuasaan. Jean
Baudrillard dengan kajian budaya tentang dunia simulasi, hiperrealitas, simulacra dan dominasi nilai-tanda dan nilai-simbol dalam realitas kebudayaan dewasa ini (Featherstone, 1988: 196).

Asumsi-asumsi modernisme yang kini telah menjelma menjadi mitos baru, persepsi masyarakat akan  sesuatu hal yang di luar batas nalar, pencarian sosok yang tidak realistis sehingga menjadi hiperrealistis, mengagumi yang semu tanpa menyadari bahwa itu hanya imajinasi menghasilkan peradaban simulasi dan berharap bahkan sampai dengan berambisi menginginkan yang dimiliki orang untuk kita jadikan milik kita. Dampaknya, ketika kita bercermin menggunakan topeng milik orang lain dipasangkan dengan ambisi wajah kita serupa dengan topeng tersebut… simulacra.

Jean Baudrillard seorang filsuf Perancis mencoba membaca realitas kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini dalam ranah kritis. Baudrillard menyatakan bahwa realitas kebudayaan dewasa ini menunjukkan adanya karakter khas yang membedakannya dengan realitas kebudayaan modern Masyarakat Barat. Inilah kebudayaan postmodern yang memiliki ciri-ciri hiperrealitas, simulacra dan simulasi. Dominasi nilai-tanda dan nilai-simbol dan konsumerisme pada praktik akuntansi hanya mengungguli bentuk dari pada substansi sebagai media komunikasi antara pemilik, manajemen dan pihak yang berkepentingan. Inilah wacana kebudayaan yang saat ini menghidupi dan sekaligus kita hidupi, sebagai sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditolak. Wacana kebudayaan inilah yang menawarkan tantangan sekaligus peluang bagi kita untuk mulai memperhatikan sisi lain realitas  masyarakat dewasa ini.

Kita bukan menghindari kondisi dominasi nilai -tanda dan nilai-simbol, namun hanya sebagai cerminan, sehingga dapatnya kita telaah mana yang sesuai dengan peradaban kehidupan  dengan nilai-nilai Budaya Timur, sebagaimana tempat hidup kita sekarang ini.

Bagaimana masyarakat timur memaknai pergeseran pemahaman dari modernitas kepada posmodern yaitu obyek-obyek yang pada masa lalu dikaitkan dengan upacara-upacara, ritualmagis dan mitos serta pada masyarakat industri dikaitkan dengan upaya-upaya “kemajuan” transformasi. Kini, masyarakat konsumerisme terindikasi sebagai cerminan masyarakat postmodern, obyek-obyek baru justru didefinisikan kembali dengan kode-kode baru dengan bahasa estetik yang baru dengan makna-makna yang baru pula. Bagi penganut agama, proses ritual dalam menjalankan ibadah keagamaan mampu mempengaruhi budaya melakukan tindakan sosial untuk menghindari kondisi dominasi simulacra.

Jacobs and Stepher (NN) menyatakan tentang penerapan praktik akuntansi dan akuntabilitas di sebuah gereja pada masyarakat  IONA.

“The accounting literature on non-profit organisations contains a number of contributions on accounting and accountability in churches and other religious groups but these are surprisingly few given the social and economic significance of many of these organisations.”

Kondisi perkumpulan masyarakat penganut agama dalam menjalankan ritual keagamaannya pada masyarakat budaya timur sangat berdampak terhadap kondisi dan tindakan sosial dan ekonomi negara tersebut. Demikian halnya dengan kegiatan ritual agama yang ada di Indonesia, menurut beberapa peneliti memengaruhi tindakan sosial penganutnya. Seperti yang disampaikan oleh Dharmayusa di bawah ini:

Budaya masyarakat timur yang sebagian besar agraris terbiasa dengan bahasa yang diam. Mereka mengalami betapa alam menunjukkan diri dalam diam tetapi mengesankan. Dalam kesederhanaan hidup mereka terlatih dengan perasaan dari pada pikiran. Oleh karena itu, Timur lebih menyukai intuisi dari pada akal. Untuk mereka yang dari timur pusat kepribadian seseorang bukanlah inteleknya tetapi hatinya, yang mempersatukan akal dan intuisi, intelegensi dan perasaan. Hati mempunyai pertimbangan sendiri yang tidak dapat diketahui oleh akal (Dharmayudha, 1989:80).

Masyarakat timur berusaha mengungkapkan ide-ide universal dan abstrak secara simbolik dan konkrit. Simbolik maksudnya ungkapan simbol-simbol, serta tanda-tanda yang mempunyai makna. Sedangkan konkrit berarti berusaha mengungkapkan suatu ide melalui hal-hal yang dapat diamati oleh indra manusia. Masyarakat timur “belajar” adalah untuk mencapai kebijaksanaan. Pengetahuan intelektual saja tidak mampu membuat seseorang menghayati hidup lebih baik dan dianggap sebagai pemborosan waktu belaka, sehingga intuisi, pemikiran yang konkrit, simbolik dan bersikap bijaksana merupakan keistimewaan orang timur mendekati realitas. Sebagai manusia perlu alat atau media untuk kembali kepada sang pencipta sehingga agama merupakan kendaraan, terlepas dari agama apa pun yang dianut manusia individu terebut pada akhirnya adalah mempunyai tujuan sama yaitu mencapai kepada sang penciptaan atau sang kebenaran melalui tindakan sosial praktik akuntansi.